Jumat, 22 April 2011

Teruskan Proyek Busway mu Bang Foke!

Aha! Tuan dan Nyonya di Pondok Indah baru saja sadar mereka merupakan bagian dari kaum urban Jakarta dengan kompleksitas permasalahannya. Selama ini kita sudah terbiasa mendengarkan teriakan rakyat menentang pemerintah propinsi di pasar-pasar tradisional, gubuk-gubuk hingga tanah-tanah tanpa Tuan. Tetapi ada teriakan dari Pondok Indah? Ini kejadian satu kali dalam satu abad. Ada yang bertanya, bukankah mereka adalah para Galacticos? Penghuni dari planet lain yang tidak tersentuh hukum propinsi alias Perda?

Itulah sebabnya saya terus menerus pantang mundur mendukung proyek Busway. Inilah satu-satunya kebijakan yang sedikit mendorong egaliterian. Dalam artian siapa saja kelak bisa menggunakannya dan di sisi lain siapa saja harus siap berkorban untuk megaproyek melawan iblis kemacetan ini. Setelah banyak lapak tergusur, jalan dipersempit dan beberapa angkutan kota trayek tertentu kekurangan penumpang, kali ini proyek busway menyapa para Galacticos di Pondok Indah. Tentu saja makhluk asing ini tersinggung, lantas balik menggugat di pengadilan. Ini makin menunjukkan betapa miskinnya solidaritas mereka dan besarnya prinsip sedapat-dapatnya menyelematkan perut masing-masing.

Pembangunan jalur busway telah menimbulkan kemacetan yang sangat parah. Lalu para komentator kebijakan adu lidah lewat media, tidak lupa para psikolog memaparkan teori hubungan antara kemacetan dengan tingkat stress. Bila mereka tanya pada saya, jawaban saya cuma satu; “Hidup Bang Foke!” Sebuah revolusi tidak mungkin zonder korban. Setelah sekian banyak penggusuran, saya heran kenapa orang-orang itu baru teriak sekarang. Pada saat aktifitas mereka terganggu dan bensin habis sekedar untuk terjebak dalam jejalan kendaraan, baru mereka mengatakan ini tidak benar. Sementara bensin yang sama mereka gunakan untuk membakar pasar rakyat lantas mengucilkan pedagang kecil di antara megahnya pusat perbelanjaan dengan parkir luas.

Ah, teruskan saja proyek busway ini Bang Foke. Lebat kumismu akan membuat jeri mereka yang tidak setuju. Bila busway tidak cukup menekan angka kendaraan pribadi yang menyesaki Jakarta, pindahpaksakan saja pusat perbelanjaan; mall dan plasa ke kepulauan seribu. Bukankah dengan demikian kemacetan bisa dialihkan dalam lalu lintas laut di kepulauan seribu. Dengan demikian industri bahari (yang jadi kebanggaan semu) bisa kita hidupkan. Ini solusi yang akan menguntungkan semua pihak. Tidak akan ada lagi lampu merah yang akan menjebak pengendara dalam trik murahan polisi.

Bila itu tidak cukup Bang Foke, perintahkan kantor-kantor di Jakarta untuk merumahkan karyawannya. Merumahkan artinya menyediakan kantor sebagai rumah karyawannya sehingga mobilitas manusia Jakarta yang tinggi bisa ditekan. Dua kali dalam seminggu kantor-kantor itu kasih karyawan liburan untuk mengunjungi pusat perbelanjaan di pulau seribu.

Bagaimana jika proyek busway ini macet di tengah jalan? Bang Foke tidak usah khawatir; jadikan saja jalur busway sebagai jalur ojek. Haltenya diubah menjadi pangkalan ojek. Semua tetap senang. Tidak usah mimpi tinggi-tinggi dengan proyek monorail, cukup motorail alias ojek!

http://esito.wordpress.com/2007/11/10/teruskan-proyek-busway-mu-bang-foke/